Awal baru di kehidupan yang membahagiakan
Saya tulis ulang semua yang saya ingin tuang, kali ini bukan tentang perjalanan masa lalu yang kelam, tapi tentang kehidupan baru yang menyenangkan. Yaaapsss, pernikahan! :)
Menikah adalah titik awal dari semua mimpi yang lebih besar, tugas yang semakin besar membersamai takdir yang baru. Keegoisan yang dulu membumbung tinggi di angkasa, mulai berkurang, mulai meredam. Istri adalah kendali, wajah muram istri adalah hambatan untuk suami. Jadi berbahagialah selalu untuk kalian semua istri di dunia ini. Suamimu sangat membutuhkan doa, cinta, dan alfatihah yang kamu kirimkan untuk jiwanya, agar lancar semua urusannya, terbuka lebih lebar pintu rezekinya :)
Ini adalah hari ke 27 saya menjadi seorang Istri. Saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang ditinggal jauh suami untuk bekerja. Hidup adalah pilihan, dan yaaa Long Distance Marriage adalah pilihan kami berdua. Pernikahan jarak jauh tidak selalu semenyeramkan apa yang mereka katakan. Kami masih terhubung 24jam dengan video call, walaupun seringnya saya ngomel karena suami telpun berulang. Saya tidak suka basa-basi. Menanyakan hal yang sama berulang kali. Saya juga kurang suka ditanya sudah makan atau belum. Saya lebih suka perhatian nyata, dalam artian menyiapkan makan siang untuk saya, atau mengajak saya keluar makan siang daripada sekedar bertanya saya sudah makan apa belum. Level kehidupan saya sudah diatas kemandirian. Saya sudah tau apa yang harus saya lakukan, bukan lagi tentang makan siang sore malam. Standart kedewasaan saya adalah di percaya, saya keluar malam, saya masih nongki bersama teman, sesekali renang, berkali-kali karaoke, beli baju, dan juga cari uang. Saya bukan tipe Istri yang betah diam di rumah. Kalau suami ikut, ayo kita lakukan bersama, saya suka sekali dia terlibat dalam kehidupan saya, apapun itu yang saya lakukan. Walaupun jarak yang jauh memisahkan, kami masih akan tetap terkoneksi karena percaya, tidak ada kata lain selain itu. Semua bisa dibicarakan, dan semua bisa di jalani.
Ku katakan sekali lagi, istri adalah kendali. Seumur hidup adalah waktu yang panjang. Saya tau rumah tangga itu berat, hingga saya yakin untuk mencobanya dengan seseorang yang saya imani akan jadi imam yang baik untuk saya. Berat memang berat, melewati kehidupan yang tidak hanya haha-hihi belaka ini.
Rindu? Pasti. Siapa yang tidak ingin bersama dengan laki-laki yang sangat dia cintai? Keikhlasan untuk menerima segala kurang, semua lebih, ketidak pekaan, ketidak mampuan dia mengerti menjadikan dunia yang penuh drama ini menjadi realita yang harus dihadapi. Inilah hidup, ini baru di mulai.
Oh iya, walaupun saya suka sekali tidak berada di dalam rumah. Bukan berarti saya pergi tanpa ijin suami. 24jam dia harus tau keberadaan saya. Kalaupun suami bilang jangan pergi, saya juga tidak akan pergi. Begitulah kebebasan, tetap dalam aturan yang benar. Istri seutuhnya adalah milik suami, bukan milik orang tuanya lagi. Jadi yaaa, dengarkan saja dan patuh apa yang suami katakan.
27 hari untuk puluhan tahun mendatang. Saya akan merekam semua memori indah dan melepas yang kurang agar pernikahan kami selalu dalam keadaan bahagia, sakinah, mawadah, warahmah.
Kalau dulu suami sering beliin saya jajan, tugas saya sekarang adalah belajar bikin aneka jajanan di rumah. Saya tidak mau dia terlalu banyak mencicipi rasa enak di luar, terlebih bukan masakan saya. Saya ingin selalu cantik untuk dia, selalu membanggakan dan tidak pernah menyusahkan. Apa sudah saya lakukan semua? Belum. Tapi saya berjalan ke arah sana, dengan penuh kesadaran. Cinta saya untuk yang memiliki hati saya, semoga tidak ada jalan untuk kami berdua selain berbahagia selamanya, tentunya dengan banyak anak-anak yang nanti meramaikannya.
Madiun, 27 Maret 2019.
Hendika Damayanti
Menikah adalah titik awal dari semua mimpi yang lebih besar, tugas yang semakin besar membersamai takdir yang baru. Keegoisan yang dulu membumbung tinggi di angkasa, mulai berkurang, mulai meredam. Istri adalah kendali, wajah muram istri adalah hambatan untuk suami. Jadi berbahagialah selalu untuk kalian semua istri di dunia ini. Suamimu sangat membutuhkan doa, cinta, dan alfatihah yang kamu kirimkan untuk jiwanya, agar lancar semua urusannya, terbuka lebih lebar pintu rezekinya :)
Ini adalah hari ke 27 saya menjadi seorang Istri. Saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang ditinggal jauh suami untuk bekerja. Hidup adalah pilihan, dan yaaa Long Distance Marriage adalah pilihan kami berdua. Pernikahan jarak jauh tidak selalu semenyeramkan apa yang mereka katakan. Kami masih terhubung 24jam dengan video call, walaupun seringnya saya ngomel karena suami telpun berulang. Saya tidak suka basa-basi. Menanyakan hal yang sama berulang kali. Saya juga kurang suka ditanya sudah makan atau belum. Saya lebih suka perhatian nyata, dalam artian menyiapkan makan siang untuk saya, atau mengajak saya keluar makan siang daripada sekedar bertanya saya sudah makan apa belum. Level kehidupan saya sudah diatas kemandirian. Saya sudah tau apa yang harus saya lakukan, bukan lagi tentang makan siang sore malam. Standart kedewasaan saya adalah di percaya, saya keluar malam, saya masih nongki bersama teman, sesekali renang, berkali-kali karaoke, beli baju, dan juga cari uang. Saya bukan tipe Istri yang betah diam di rumah. Kalau suami ikut, ayo kita lakukan bersama, saya suka sekali dia terlibat dalam kehidupan saya, apapun itu yang saya lakukan. Walaupun jarak yang jauh memisahkan, kami masih akan tetap terkoneksi karena percaya, tidak ada kata lain selain itu. Semua bisa dibicarakan, dan semua bisa di jalani.
Ku katakan sekali lagi, istri adalah kendali. Seumur hidup adalah waktu yang panjang. Saya tau rumah tangga itu berat, hingga saya yakin untuk mencobanya dengan seseorang yang saya imani akan jadi imam yang baik untuk saya. Berat memang berat, melewati kehidupan yang tidak hanya haha-hihi belaka ini.
Rindu? Pasti. Siapa yang tidak ingin bersama dengan laki-laki yang sangat dia cintai? Keikhlasan untuk menerima segala kurang, semua lebih, ketidak pekaan, ketidak mampuan dia mengerti menjadikan dunia yang penuh drama ini menjadi realita yang harus dihadapi. Inilah hidup, ini baru di mulai.
Oh iya, walaupun saya suka sekali tidak berada di dalam rumah. Bukan berarti saya pergi tanpa ijin suami. 24jam dia harus tau keberadaan saya. Kalaupun suami bilang jangan pergi, saya juga tidak akan pergi. Begitulah kebebasan, tetap dalam aturan yang benar. Istri seutuhnya adalah milik suami, bukan milik orang tuanya lagi. Jadi yaaa, dengarkan saja dan patuh apa yang suami katakan.
27 hari untuk puluhan tahun mendatang. Saya akan merekam semua memori indah dan melepas yang kurang agar pernikahan kami selalu dalam keadaan bahagia, sakinah, mawadah, warahmah.
Kalau dulu suami sering beliin saya jajan, tugas saya sekarang adalah belajar bikin aneka jajanan di rumah. Saya tidak mau dia terlalu banyak mencicipi rasa enak di luar, terlebih bukan masakan saya. Saya ingin selalu cantik untuk dia, selalu membanggakan dan tidak pernah menyusahkan. Apa sudah saya lakukan semua? Belum. Tapi saya berjalan ke arah sana, dengan penuh kesadaran. Cinta saya untuk yang memiliki hati saya, semoga tidak ada jalan untuk kami berdua selain berbahagia selamanya, tentunya dengan banyak anak-anak yang nanti meramaikannya.
Madiun, 27 Maret 2019.
Hendika Damayanti
Komentar
Posting Komentar